Sejarah Gereja & Paroki Pulo Mas
cikal bakal paroki
Pada sekitar tahun 1965, kawasan Pulomas masih sangat sepi, terutama pada malam hari. Kawasan ini masih banyak rawa dan empang. Rumah-rumah masih sangat jarang, berkelompok serta dihubungkan oleh jalan tanah yang becek, bahkan banyak genangan air sewaktu hujan.
Semula wilayah reksa pastoral di kawasan Kampung Ambon
berada dibawah naungan Pastur-pastur Ordo Fransiskan atau OFM dari Paroki Kramat. Dari beberapa kelompok rumah ini ada sekitar 10
keluarga yang beragama Katolik dengan tempat tinggal terpencar. Umat dapat
pergi ke mana saja untuk memperoleh pelayanan pastoral seperti permandian, pernikahan, misa dan sakramen lainnya.
Terdapat beberapa Pastor yang melayani kampung Ambon
antara lain Pastor Van Genuchten OFM, Pastor Soetoyo OFM, Pastor Leo Derksen OFM, serta Pastor J. Patosudarmo, OFM. Pada waktu itu Pastor J. Wahyosudibyo OFM sebagai
Pimpinan Ordo Fransiskan dan Ketua Yayasan Santo Fransiskus memikirkan sarana pendidikan atau sekolah di Kampung Ambon.
Atas dorongan dari Mgr. A. Djajaseputra SJ, dibangunlah sekolah di Kampung Ambon dengan pengelola TK Ibu Srigiati Baroto dan pengelola SD Ibu Anton Setu. Dalam perjalanan waktu, TK dan SD itu kemudian menjadi TK dan SD Fransiskus yang berawal sebagai filial dari Sekolah Fransiskus di Kramat dimana pengelolaannya adalah para Suster-suster Fransiskanes Pring Sewu atau FSGM.
Dengan adanya gedung sekolah ini, maka ibadat hari
Minggu atau hari Besar yang semula diadakan di rumah Bapak Mukidjo di Rawasari
dipindahkan ke salah satu ruang kelas. Seiring dengan perkembangan waktu dan
keadaan, umat bertambah semakin banyak. Pastor J. Partosudarmo sebagai Pastor
Pembantu yang bertanggung jawab atas Wilayah X (Kampung Ambon) dan Wilayah XI
(Pulo Asem dan Kompleks PERTAMINA) kemudian menata dengan berbagai sekolah
Fransiskus dan juga BKIA Mardiasih. Ibadat pun berpindah ke gedung STM,
ketika gedung ini selesai dibangun.
Pada Tahun 1976, Bapak Hadi Sutrisno, Ketua Wilayah X
mengusulkan agar segera dibangun tempat ibadat yang dekat, karena umat di
wilayahnya telah mencapai 500 orang. Enam bulan kemudian, pada tanggal 19 Juni
1977 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja di rumah Bapak Drs. S. Soedarsono.
Setelah mempelajari usul Dewan Paroki Kramat dan pembicaraan dengan Pastor J.
Wahyusudibyo OFM, pada tanggal 20 Agustus 1977, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo
Soekoto SJ mendirikan Paroki Pulomas dengan nama pelindung Santo Bonaventura.
Selanjutnya pada 5 Juni 1978, Uskup Agung Jakarta menyatakan berdirinya
Pengurus Dewan Paroki/PGDP dengan Pastor J. Partosudarmo OFM sebagai Ketua.
Sejak saat itu Paroki berjalan sebagaimana mustinya termasuk membuat Buku Baptis sendiri.
Terdapat beberapa kali penunjukan tempat oleh
pemerintah untuk lokasi gereja dan pastoran, hingga akhirnya menempati tempat
yang sekarang. Beberapa tokoh yang berjasa untuk mengusahakan tempat ini,
antara lain Bapak R. Soepangat Reksowigoeno, Bapak Bondang atau Bapak Darmadji (Bimas Katolik DKI), dan Letkol Suparman. Untuk
mendapatkan IMB, Romo Yoseph Wiyanto Hardjopranoto, Pr. sangat aktif mengurus
sendiri ke kantor DKI. IMB akhirnya diperoleh pada tanggal 14 Maret 1979.
Pembangunan
gereja dimulai dengan perletakan batu pertama oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr.
Leo Soekoto SJ pada tanggal 15 Agustus 1978. Dan pembangunan fisik gereja
dimulai pada tanggal 10 Maret 1979. Gereja mulai digunakan pada 24 Desember
1979, diberkati oleh Mgr. Leo Soekoto SJ pada 20 April 1980 dan diresmikan pada
12 Desember 1981 oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Tjokropranolo. Panitia
Pelaksana Fisik pembangunan gereja adalah: Ir. J. Adi Taruli, Didi Kiswanto,
Janus Marbun. Tim Teknik: Ir. Handoko A.S. (Bidang Arsitektur), Idea Five
Consultants (Bidang Konstruksi), Ir. Meiril Isa dan Ir. Paulus Hendra sebagai perencana dan penanggung jawab.
Sumber: Tim 1 Penulisan
Sejarah Dan Refleksi Umat – Panitia Peringatan 200 Tahun Gereja Katolik di
Jakarta Tingkat Paroki Pulomas, dipublikasikan melalui Buku Lustrum 6, Buku
Kenangan 30 Tahun Gereja Santo Bonaventura, Paroki Pulo Mas.




